Kenalkan Yuko, Santri Gresik Berusia 15 Tahun yang Jadi Maba Termuda S-1 Teknik Sipil UNESA
SURABAYA – Konsistensi dan kedisiplinan dalam belajar menjadi kunci bagi Mohammad Habibullah Zaini Yuko untuk menembus ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi. Di usianya yang baru menginjak 15 tahun (menjelang 16 tahun), remaja asal Gresik ini resmi menjadi bagian dari keluarga besar S-1 Teknik Sipil Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) 2026.
Perjalanan akademik Yuko mencerminkan tekad dan kemandirian yang luar biasa. Sebagai lulusan program percepatan di Madrasah Aliyah Istimewa (MAI) Amanatul Ummah, ia terbiasa dengan ritme belajar yang padat dan terstruktur. Baginya, lingkungan pesantren bukan sekadar tempat menimba ilmu agama, melainkan kawah candradimuka untuk melatih manajemen waktu.
Misi Sosial: Berawal dari Keprihatinan Infrastruktur
Ketertarikan Yuko pada Teknik Sipil lahir dari kepekaannya terhadap kondisi lingkungan sekitar sejak kecil. Ia sering mengamati infrastruktur di daerahnya yang memerlukan perbaikan dan pengembangan. Hal inilah yang memicu tekadnya untuk mendalami ilmu rancang bangun agar dapat berkontribusi nyata bagi keamanan dan kenyamanan fasilitas publik di masa depan.
"Kuliah di Teknik Sipil adalah jalan saya untuk memberikan karya nyata bagi masyarakat, nusa, dan bangsa. Saya ingin membuktikan bahwa santri juga bisa berkontribusi besar di bidang infrastruktur," ungkap anak tunggal dari pasangan Ahmad Kholil dan Yulia Wahyuni ini.
Sosok Gigih di Mata Pendidik
Nur Holili Arif Syahri, salah satu guru Yuko di MAI Amanatul Ummah, mengenangnya sebagai siswa yang memiliki rasa ingin tahu tinggi. "Yuko adalah tipe siswa yang sangat gigih. Jika menemui materi yang sulit, ia tidak segan untuk terus mencoba dan bertanya hingga benar-benar paham. Kedisiplinannya di kelas sangat menonjol," ujarnya.
Restu Orang Tua dan Nilai-Nilai Adab
Meski terpilih sebagai mahasiswa termuda, Yuko tetap diingatkan oleh keluarganya untuk tetap rendah hati. Sang ibu, Yulia Wahyuni, berkomitmen memberikan dukungan terbaik agar putra tercintanya dapat belajar dengan tenang di Kampus Lidah Wetan.
"Kami selalu berpesan agar ia tidak meninggalkan nilai-nilai adab yang didapat dari pondok. Sukses itu bagi kami adalah saat dia bisa menjaga salatnya dan ilmunya bermanfaat untuk orang banyak," tutur Yulia penuh harap.
Apresiasi dari Program Studi
Kehadiran Yuko menjadi bukti bahwa usia bukanlah penghalang untuk meraih prestasi akademik. Koordinator Program Studi Teknik Sipil UNESA menyambut hangat bergabungnya Yuko dan berharap semangatnya dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk terus berinovasi dan memiliki dedikasi tinggi sejak dini.
Dengan bergabungnya Yuko di keluarga besar Teknik Sipil UNESA, diharapkan potensi dan "insting" teknis yang ia miliki dapat terasah secara maksimal melalui kurikulum dan fasilitas praktikum unggulan yang tersedia di UNESA.
Selamat bergabung, Yuko! Mari membangun negeri bersama Teknik Sipil UNESA.